Dari Societeit de Harmonie ke Opera Bibir Pantai Tanjung Bunga

0
121

Kolom Fiam Mustamin

Gedung Opera Makassar di Tanjung Bunga. Perlukah …?

NANO N Riantiarno bersama isterinya Ratna datang khusus ke Makassar untuk menyaksikan pertunjukan I Lagaligo Berlabuh di Makassar 23 April 2011.

Pertunjukan pertama di Indonesia di panggung open air Benteng Rotterdam sebagai penghormatan dan apresiasi di bumi leluhur kelahiran I Lagaligo yang dikenal sebagai salah satu warisan dunia dari Unesco, karya terbesar/ maha karya sastra dunia yang sejajar dengan Homerus dari Yunani dan Mahabrata dari India.

I lagaligo dapat dikemas menjadi sebuah naskah pertunjukan teater dibawah pentas ke beberapa negara atas dukungan JK sebagai Wapres dan Tanri Abeng yang memiliki akses jaringan luas.

Saya dan Alif we Onggang menemui Nano, panggilan akrab N. Riantiarno, penulis dan sutradara lakon pentas Teater Koma yang sebelumnya di Teater Populer bersama Teguh Karya dan Slamet Raharjo.

Kalimat pertama yang disampaikan ke kami di loby hotel Sedona, pinggir pantai Losari “Sudah Saatnya Makassar Memiliki Gedung Bertahap Opera.”

Ungkapannya itu menjadi obsesi kerinduan para seniman di tanah air, bukan saja untuk Makassar.

Saya merekam obsesi ajakan itu dengan keyakinanan pada suatu waktu yang tepat saya akan dengungkan kembali itu.

Alhamdulillah sembilan tahun kemudian, saya jumpa yunior Agusalim Alwi, pimpinan Fajar Media dan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Sulsel yang bercerita banyak tentang visi cita- cita dan inovasi konsepsional terobosan Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah dan saat itu Walikota Makassar, Dany Pomanto untuk masa depan daerah dan Kota Makassar yang berkemampuan secara ekonomi.

Kemudian saya beranggapan bahwa inilah saatnya Sulawesi Selatan terbangun dengan semua sektor khususnya infrastruktur secara berkesiambungan dengan tetap memiliki basis kebudayaan, harkat kemanusiaannya dan Kota Makassar ibukota provinsi menjadi setara levelnya dengan kemajuan : world city/ kota berkelas dunia yang damai, amañ dan toleran untuk semua ras dan suku bangsa.

Opera Makassar City

DIMULAI dari gedung kesenian daerah Pecinan jalan Irian ke Makassar Societeit de Harmonie Jalan Riburane yang beberapa tahun ini dibiarkan terlantar kosong tak dipergunakan.

Lokasi yang ideal dari pandangan estetika dan tata perkotaan, membangun gedung opera yang berstandar internasional adanya di pantai Tanjung Bunga yang tidak terkendala dengan lahan yang harus dibebaskan. Seperti halnya gedung Opera Sydney di ibukota Australia

Gedung Opera itu kelak bila sudah terbangun untuk menampung pentas yang bersifat kolosal dan konser musik.
Dengan adanya gedung Opera itu menjadi pilihan untuk pentas berskala internasional selain untuk kepentingan pentas dalam negeri sendiri.

Selain itu, akan menjadi ikon kota dan destinasi wisata/(Indonesia Wonderful World.

Sejalan dengan itu, maka daerah daerah di Kabupaten dan Kota pun perlu memiliki sarana gedung kesenian khusus yang standar untuk pentas bagi seniman seniman di daerah.

Tidak lagi hanya menumpang di gedung balai pertemuan yang peruntukannya untuk rapat rapat pegawai. Kita berdoa barakallah …

Beranda Inspirasi Ciliwung 21 November 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here