Cermin Hadi Mulyadi

0
3548
- Advertisement -

Kolom Imran Duse

Sekarang aku tak peduli
Sudah tidak ada lagi cermin berarti
Aku harus jadi cermin diri sendiri.

Penggalan bait puisi itu digubah di ketinggian 38 ribu kaki, di dalam kabin pesawat Garuda Indonesia yang terbang dari Balikpapan menuju Jakarta, 10 April 2011. pengarangnya seorang yang efisien: tak membolehkan waktu percuma. Karyanya konsentrif: majas dan kaya akan makna. Dari sana, terbit sebuah antologi puisi berjudul “Cermin”.

Pada cermin, kita selamanya bersua kejujuran. Ia tak pernah berdusta memantulkan bayangan diri. Walau ada satu masa di mana “sudah tidak ada lagi cermin berarti”; ketika keteladanan, solidaritas sosial dan cara pandang tentang kesuksesan seolah telah mengering di tengah gelumat media sosial. Di saat itulah “aku harus jadi cermin diri sendiri”.

Yang menarik, penulisnya bukanlah seorang sastrawan. Ia lulusan Matematika murni FMIPA Universitas Hasanuddin. Ia bahkan mengajar Matematika dan Statistik di sejumlah kampus dan bimbel di Makassar saat masih mahasiswa.

- Advertisement -

Ia adalah H. Hadi Mulyadi, S.Si., M.Si., saat ini Wakil Gubernur Kalimantan Timur, yang memang dikenal multitalenta dengan keluasan spektrum pergaulan.

Ia memerankan diri sebagai seorang social butterfly, yang berprinsip bahwa keakraban persahabatan dapat memantik daya hidup yang menakjubkan. Baginya, hanya kebaikan sahabat yang kukuh dikenang, sementara kekurangan mereka ditaruh di atas pasir yang segera terhapus saat gelombang kecil datang menyapa bibir pantai.

Hadi Mulyadi melukiskannya dalam puisi berjudul “Sahabat”:

Untukmu sahabat
Kutulis kekuranganmu di atas pasir
Kuukir kebaikanmu di atas batu.

Hari ini, Wagub Kaltim Hadi Mulyadi genap berusia 55 tahun. Kita ikut bersyukur sembari memanjatkan doa terbaik. Kisar-kisar perjalanannya, barangkali, bisa menjadi pelajaran –khususnya bagi generasi muda– untuk memahami betapa perjuangan meraih impian harus ditempuh melalui jalan yang tidak mudah, berkelok dan tak jarang meminta begitu banyak pengorbanan. Dalam makna itulah refleksi ini ditulis.

Mozaik Kehidupan

Lahir di Samarinda, 9 Mei 1968, Hadi Mulyadi bagaikan mozaik yang memiliki banyak sisi dalam hidupnya. Ia dikenal sebagai pejabat publik, pendakwah, akademisi, politisi, aktivis organisasi sosial, pegiat seni-musik, penulis, ….

Ia aktif menekuni olahraga Pencak Silat, Karate, Tenis Meja, Catur, Menembak, dan sesekali Berkuda atau Melukis. Ia piawai memainkan beberapa alat musik, teristimewa drum. Akhir tahun lalu, Hadi Mulyadi malahan satu panggung bersama Iwan Fals, legenda musik Indonesia, dalam sebuah konser di Dome, Balikpapan.

“Wah, senang ya kalian punya Wagub yang jago main drum,” kata Iwan Fals di depan ribuan penonton, sebagaimana ditulis AntaraKaltim (17/09/2022).

Sisi lain yang mengesankan, ialah ketelatenan Hadi Mulyadi menyimpan dokumen dan mencatat berbagai peristiwa dan aktivitas yang ia jalani. Kebiasaan ini telah dimulai sejak waktu yang lama.

Saya sungguh terkesima melihat catatan-catatan itu: saksama, rapi dan terstruktur. Sebagian bahkan dilaminasi demi memberi efek daya tahan.

Misalnya, terdapat nama 35 mahasiswa seangkatannya di FMIPA Unhas dan hanya 15 yang selesai (lengkap dengan rincian waktu wisuda dan update: alamat terakhir, nomor WhatsApp, pekerjaan).

Terdapat pula catatan perjalanan ke luar negeri: menunaikan ibadah haji 1427 H, ibadah umrah 6 kali, dan 45 lainnya ke berbagai negara. Semua disertai rincian maskapai yang digunakan, tanggal berangkat dan kembali, hotel yang ditempati, tujuan, hingga nomor passport.

Di kategori lain, ia mencatat pertama kali Khutbah Idul Fitri di Kabupaten Pinrang, Sulsel. Ada juga jadwal ceramah Ramadhan selama lebih satu dekade terakhir. Saya membaca, Ramadhan tahun 1439 H (2018) adalah yang terpadat: ada 71 ceramah, kultum, hingga Khutbah Idul Fitri.

Laksana itu, mengingatkan saya pada Karaeng Pattingalloang (1600–1654 M) –pemimpin yang pandai Matematika dan rajin mencatat peristiwa di kerajaannya. Hingga Alexander Rhodes takjub, ketika suatu hari di tahun 1646 bertandang ke Makassar dan berjumpa Raja Tallo yang juga Perdana Menteri Kesultanan Gowa itu.

Rhodes menulis (kita pinjam dari Goenawan Mohamad, Tempo, 17/11/1979): “Karaeng Pattingalloang bukan saja raja yang amat sangat bijak dan jujur sekali, tetapi juga sangat menggemari ilmu, pandai berbahasa Portugis, memiliki banyak pustaka Spanyol, pandai Matematika, serta piawai dalam mencatat segenap kejadian di kerajaannya dari hari ke hari.”

Madrasah Ibu

Lantas, dari mana datangnya kecakapan alterasi itu? Bukankah jurusan Matematika tidak memiliki kelengkapan konpendium untuk mengantarkan siswa ke atas mimbar khutbah, duduk di belakang set drum, sebagai pemuisi, atau memperbalahkan gagasan politik di gedung parlemen?

Bagi Hadi Mulyadi, kurikulum itu mula-mula terbit justeru dari rumah. Dan ibunda, Hj. Hartiah binti H. Salman (1937-2000), adalah guru terbaik yang notifikasi pengajarannya selalu mengetuk layar kesadaran. Sementara ayahnya, H. Masyhud Djapar bin H. Djapar Seman (1932-2010), adalah teladan paripurna akan ketangguhan, kesabaran dan kesetiaan pada pekerjaan.

Bila suatu saat Anda ke Tenggarong dan menemukan Jalan H. Djapar Seman, maka itulah nama kakek Hadi Mulyadi. Namanya disematkan, mengingat waktu itu dikenal luas sebagai tuan tanah dan Anemar (pemborong). Salah satu karyanya adalah Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin (yang pada tahun 1990-an direnovasi dan berganti nama menjadi Masjid Agung Sultan Sulaiman).

Dari silsilah Ibu, nenek Hadi Mulyadi adalah saudara kandung Ence Hamisah (A.R. Djutto) yang merupakan istri Raja A.M. Parikesit. Dengan kata lain, Ibunda Hadi Mulyadi adalah sepupu dua kali Sultan Salehuddin; dan Hadi Mulyadi sendiri bersepupu tiga kali dengan Pangeran Arifin (Raja Kutai saat ini).

Dari kedua orang tuanyalah, Hadi Mulyadi (anak ke-6 dari 7 bersaudara), terlatih sejak kecil untuk fokus, disiplin, dan bertanggung jawab.

Ada sebuah edukasi yang hingga kini ia kenang, terutama saat bulan Ramadhan tiba.Yakni, setiap selesai tarawih atau salat subuh di masjid dekat rumah, Ibu selalu menanyakan materi ceramah barusan (dan antusias mendengar “copy paste” buah hatinya).

Setelahnya, Hadi Mulyadi selalu memusatkan perhatian saat mendengar ceramah atau Khutbah Jum’at. Karena tugas pertama setibanya di rumah adalah “berceramah” kepada Ibunda tercinta.

Keakrabannya dengan Matematika pun bermula dari Ibu, yang tak lelah mendampingi belajar, dan Pak Darmaji, gurunya di SD. Hasilnya: hingga tamat SMA, nilai Matematika terendah yang ia dapat adalah 9 (itu pun karena tak ada siswa yang dapat nilai 10). Bahkan, saat SMP, Hadi Mulyadi pernah menjadi satu-satunya (dari 400 siswa) yang meraih nilai 10. Rapornya pun masih tersimpan rapi, di mana ia tak pernah absen di peringkat 3 besar.

Tamat SMA (1987), ia dinyatakan diterima di 3 perguruan tinggi. Namun ia memilih Unhas. Dan sebuah komitmen diabsahkan: kakak sulungnya menanggung biayai kuliah, orang tua untuk biaya bulanan, sementara Hadi Mulyadi bertanggungjawab merampungkan kuliah tepat waktu.

Sepekan jelang keberangkatannya adalah momen yang cukup dramatis. Entah kenapa, Ibunya sering meneteskan air mata. Nampaknya mengkhawatirkan akan keadaan Hadi Mulyadi di Makassar. Apalagi tak ada keluarga di sana.

Tapi air mata itu telah menjadi untaian doa yang tak terhalang-menembus dinding langit. Hadi Mulyadi pun dapat mengatasi tantangan “kawah candradimuka” melalui kreativitas dan kesungguhannya. Bahkan memasuki semester 5, ia sudah berpenghasilan sebagai asisten dosen dan pengajar di beberapa lembaga bimbel. Ia juga aktif di sejumlah organisasi kemahasiswaan –yang membawanya berjumpa dengan Anis Matta.

Di Makkasaar itu pula Hadi Mulyadi menemukan mahkota hatinya. Ia pun meminang Hj. Erni Makmur, seorang gadis Bulukumba (pada 20/2/1993), yang kini telah memberinya 5 orang anak: Usamah Saifurrahman (Alm), Khaulah Karimah, Muhammad Al Fatih, Muhammad Ibrahim Khalil, dan, Ahmad Ismail Yasin.

Yaumul Milad Pak Wagub! Barakallah fii umrik. Dan semoga pula rahmat Allah swt selalu memayungi jalan panjang pengabdian Pak Wagub untuk kemajuan masyarakat dan daerah Kalimantan Timur. Aamiin.

Penulis, Wakil Ketua Komisi Informasi Kalimantan Timur dan Dosen FUAD UINSI Samarinda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here