Bila Tiba Musim Bajak Persawahan dan Mengail Ikan di Rawa-rawa

0
14

Oleh Fiam Mustamin

KEDUA pengalaman masa kanak-kanak begitu indah yang tak akan terlupakan sepanjang masa dalam hidup Penulis. 

Masa kecil Penulis di desa Leworeng, Kabupaten Soppeng di tahun 60 an telah membekali banyak hal dalam kehidupan kemudian.

Penulis mengikuti keluarga yang profesinya sebagai guru sekolah; La Upe dan Petta Sahari datang mengajar  di sekokah yang baru dibangun di desa tersebut yang warganya menyingkir dari masa kekacauan gerombolan DI/TII Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan.  

Dengan usia kelas dua Sekokah Rayat (SR), Penulis ikut bertani sawah yang lahannya disediakan oleh Kepala Kampung, — Matoa Leworeng, saat itu untuk menunjang hidup.

Seperti pada umumnya sawah yang akan ditanami padi terlebih dahulu perlu dibajak untuk menghamburkan dan melemaskan tanahnya supaya mudah ditanami.

Di waktu subuh  menjelang fajar, Penulis ikut menghalau sejumlah hewan ternak sapi ke lahan sawah yang akan diolah.

Perjalanan menggiring hewan ternak itu kadang perlu melintasi area pekuburan yang membuat bulu kuduk merinding mengingat cerita-cerita mistis orang kampung. Tak ada jalan lain mesti dilewati dengan perasaan was-was agar kawanan ternak tersebut tetap terkendali masuk  ke area persawahan yang akan dibajak.   

Suatu sensasi yang begitu menyenangkan manakala hewan-hewan halauan itu sudah tiba di area persawahan dan dibiarkan bebas untuk  mencari makanan masing masing. 

Dan para  pengembalanya mencari rumah -rumah di tengah sawah untuk beristirahat sembari memandang langit dan fajar yang begitu indah menyongsong pagi hari. 

Dari seberang sana sini persawahan itu terdengar bersahutan  bunyi seruling dan nyanyian bagai simponi  para penggembala yang mengekspresikan masing-masing sukacitanya.

Sesaat kemudian di pagi hari matahari yang sudah muncul di ufuk Timur maka  berdatanganlah para ibu-ibu yang  membawa bekal sarapan pagi seperti ketan, parutan kelapa setengah tua, buah kacang putih yang sudah diracik serta ikan kering gabus dan ikan bungo, — ikan endemik setempat yang ditumbuk halus,  amboi indok massipanya  (enaknya).

Setelah itu para orangtua mulai memasang alat pembajak (dakkala)  di masing-masing hewan tadi dengan aba-aba yang sepertinya sudah dipahami oleh hewan-hewan tersebut.

Mengail dan Menangkap Ikan

Menangkap ikan hidup dalam air di satu lubang atau di celah batang atau yang menampak kepalanya di permukaan air di sela pepohonan dan dedaunan yang terasa sebagai suatu rekreasi petualangan yang selalu menagih ingatan masa kecil untuk mengulanginya.

Tak terasa,  bisa seharian berjemur di rawa-rawa atau di sungai sungai kecil pada musim usai panen padi atau banjir besar. 

Penulis melakukan hal itu  di hari libur sekolah dan membawa banyak sekali aneka ikan untuk dikeringkan dan dimasak langsung.

Bisa jadi dengan pengalaman masa kecil yang serba terbatas fasilitasnya itu di kampung yang membuat Penulis begitu akrab dan selalu rindu dengan alam pedesaan.

Lho … aku iki tetap wong ndeso lek … aku sangat  mensyukurinya.

Penulis, adalah budayawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here