Bersama KH Baharuddin Masse, Kenangan Tak Terlupakan

0
1516
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

APA Kesan yang begitu mendalam salama lebih 50 tahun mengenal Daeng Bahar, begitu saya menyapanya.

Perkenalan di awali ketika saya sekolah di SMP negeri satu dan Daeng Bahar (DB) di SMA negeri 200 Watansoppeng tahun 1960 an.

Masa pergolakan mahasiswa di Makassar, pembubaran PKI dan tumbangnya pemerintahan Orde Lama Presiden Soekarno di tahun 1976/ 1970.

Kemudian bertemu lagi di Jakarta tahun 1990.

- Advertisement -

Siklus 50 tahun, setengah abad itu bukan waktu yang singkat yang memiliki histori kehidupan untuk bisa survive sampai sekarang ini.

Adik Aprial menelpon pagi mengabarkan berita dukacita: telah berpulang Daeng Bahar ( KH Baharuddin Masse ) Rabu 28  September 2021.

innalillahi wainna ilaihi rajiun …

Saya terdiam, sekian lama tidak ada komunikasi, kami tahunya almarhum berdiam di Singapura.

Aktivitasnya Berdakwah

SEKIAN lama tidak jumpa, saya temui Daeng Bahar sebagai dai kondang di beberapa media televisi. Mengapa kondang, selain karena tema-tema aktual yang ditausyiakan, beliau juga hadir dengan penampilan kostum dan hand properties aksesoris berkelas.

Beliau ketika itu di tahun 1990 sering juga memenuhi undangan bertausyiah di Singapura, Brunei dan Malaysia.

Kembali ke Soppeng, seusia pelajar, iya bersama teman-teman sejurusan sosial budaya, sering tampil pentas dan  menyutradarai drama yang bertema kepahlawanan.

Saya ingat dalam satu adegan dengan kostum pejuang ikat kepala kain merah putih dan senjata bambu runcing di tangan iya tampil membacakan sajak Charil Anwar .. Antara Karawang Bekasi.

Serta merta saat itu iya menjadi idola/ bintang pelajar, bergaul akrab dengan anak pejabat selevel kabupaten dan anak anak bangsawan Soppeng.

Saya sering ke rumah kosnya besama beberapa anak pelajar dari luar kota Soppeng.

Dari sana, saya kenal dekat dengan beliau, saya ikut mendengar diskusi perbincangan mereka. Saya satu-satunya anak SMP di antara mereka.

Saya ikut mencicipi bekal dari kampung seperti kue bolu, bake, bajabu/abon khas ikan gabus dari danau Tempe.

Di Makassar, sayapun sering mendatangi kosnya di jalan Salemo, ujung utara kota Makassar.

Di sana, saya mulai bertanya tanya tentang bagaimana Daeg Bahar bisa bersekolah dari Batubatu ke Soppeng sampai ke Makassar.

Beliau bercerita jujur ke saya,  bahwa iya hanya anak petani, pakkaja (nelayan). Tiba masa bayaran sekolah, ayahnya menyuruhnya pergi panjat kelapa dan menjualnya ke pasar.

Kemudian bagaimana ia menyerap nilai peradaban/pangadereng, beliau menyerapnya di Salassae
/istana datu yang sering dikunjunginya.

Pertemuan Sahabat Segenerasi

DALAM Satu acara arisan Keluarga Soppeng di Anjungan Pemda Sulsel di Taman Mini Indonesia Indah, bertemu sahabat segenerasi dari Soppeng ; Baharuddin Masse, Andi Mustari Pide, Nuh Jafar Hafsah, Jamaluddin Dalle dan Mustamin di hadiri Dirjen Andi Hasan Walinono dan Sekda Soppeng.

Saat ini tinggal Daeng Aji Jafar yang menjadi kakak dan orangtua kami sekerabat.

Dua peristiwa penting berikutnya, Daeng Bahar datang menjemput saya di Condet dibawanya ke kantornya gedung Granadi Rasuna Said, ke rumah tinggalnya di daerah pegunungan Cisarua.

Di rumah yang luas itu tertata rapih baran-barang koleksi berharga dan pakaian-pakaiannya.

Kami bercerita sepanjang malam tentang  masa-masa yang sudah dilalui dan apa yang sedang dihadapi saat ini.

Balik ke Jakarta, Daeng Bahar membuka lemari pakaiannya dan mempersilahkan membawa mana yang saya suka.

Putera saya anak ketiga Muh Mur Ikhsan, Daeng Bahar datang waktu akikanya bulan Juli 1997 dan tiga tahun lalu putera saya sudah berpulang.

Sehari setelah Lebaran puasa saya diajak ke Soppeng. Subuh hari Daeng Bahar datang menjemput saya di Condet.

Kami ke Soppeng via Pare Pare, sebuah perjalanan napak tilas mengingat masa masa kecil sampai ke Batu Batu kecamatan Marioriawa Soppeng.

Dua orang kakak terdekat saya telah berpulang mendahului Daeng Bahar, abadi kukenang tausyiah dan kebaikan perhatiamu dan Pung Aji Mustari/Kak Mus dalam perannya Memangku Bumi Menjunjung Langit untuk pelestarian adat peradaban.

Selamat jalan…

Beranda Inspirasi Ciliwung 29 September 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here