Belajarlah dari Putri Diana dan Bunda Teresa

0
1142


Kolom Ruslan Ismail Mage

Siapa menabur benih unggul di lahan subur niscaya memanen hasil gemilang, kecuali mengabaikan gulma dan hama. Yang lainnya, hanya menuai debu!
Di akhir musim panas tahun 1997, orang dikagetkan oleh dua peristiwa yang terjadi dalam waktu terpisah kurang dari seminggu, yaitu meninggalnya Putri Diana dan Bunda Teresa. Di permukaannya kedua wanita ini sangat berbeda. Yang satu adalah putri yang jangkung, muda, serta glamour, dari Inggris, yang bergaul di kalangan atas. Yang satunya seorang wanita biasa penerima Hadiah Nobel Perdamaian, seorang biarawati Katolik mungil yang sudah tua, lahir di Albania, yang melayani warga termiskin di Calkuta, India.

Menjadi luar biasa karena dampak keduanya sangat mirip. Dalam jajak pendapat tahun 1996 yang diterbitkan oleh harian “Daily Mail” di London, Putri Diana dan Bunda Teresa dianggap sebagai dua wanita paling peduli dan berpengaruh di dunia. Walaupun keduanya berasal, tumbuh, dan tinggal di lingkungan yang berbeda, tetapi keduanya mempunyai visi dan misi yang sama dalam memaknai hidup. Keduanya dinobatkan sebagai perempuan paling peduli dan berpengaruh di dunia ketika keduanya menentukan sasaran hidupnya menjadi aktor sosial (pelayan kemanusiaan).

Bunda Teresa lebih memilih mengabdikan hidupnya dengan melayani orang-orang termiskin di Calcuta, sedangkan Putri Diana menentukan sasaran hidupnya melayani orang lain dengan mengumpulkan dana amal untuk pemberantasan penyakit yang banyak menyerang komunitas orang miskin di dunia. Diana mulai mengusik hati orang untuk beramal demi riset terhadap AIDS, pemeliharaan orang yang terkena lepra dan larangan menggunakan ranjau darat dalam peperangan.

Sahabat pembelajar, pengaruh Putri Diana yang begitu besar, bukan ketika menjadi Putri kerajaan yang bergelar bangsawan mendampingi suaminya Pangeran Charles pewaris tahta kerajaan Inggris. Bukan ketika semua kemewahan membungkus tubuhnya atau ketika pengawal kerajaan mengiringi langkahnya, tetapi ketika dia fokus menjadi pelayan kemanusiaan.
Pada tahun 1996 ketika diceraikan oleh Pangeran Charles, seketika ia kehilangan gelar kebangsawanannya, tetapi justru pengaruhnya semakin meningkat sementara pengaruh mantan suami, serta para saudara iparnya yang hidup di lingkungan istana justru menurun pamornya. Ironisnya, bahkan setelah meninggal pun Diana terus mempengaruhi orang lain. Ketika pemakamannya disiarkan langsung di televisi, acaranya diterjemahkan ke dalam empat puluh bahasa di dunia. NBC memperkirakan bahwa jumlah total penontonnya mencapai 2,5 miliar jiwa, lebih dari dua kali lipat dari orang yang menonton upacara pernikahannya.

Dari pengalaman hidup dua wanita berpengaruh atas, ada beberapa hal yang menjadi pelajaran dalam memaknai hidup kedepannya. Pertama, sekaya-kayanya harta yang dimiliki, sebanyak-banyaknya warisan yang ditinggalkan, bukan itu yang dikenang orang, tetapi sejauhmana rutinitas dan keikhlasannya berbagi ke sesama. Kedua, setinggi-tingginya pangkatnya, dan seluas-luasnya wilayah kekuasaannya, bukan itu yang dikenang orang. Namun seberapa sering, dan seberapa banyak kebijakan yang dibuat untuk mensejahterakan dan memakmurkan orang lain. Keempat, sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya gelar akademik yang dimiliki, bukan itu yang dikenang orang lain. Namun sesering dan setulus apa menginspirasi orang lain menjadi sukses, damai dan bahagia dalam hidup.

Jadi kepada sahabat-sahabat yang memiliki kekayaan berlebih, jabatan dan pangkat tinggi, serta gelar akademik yang berjejer berbaris mengapik namanya, ayo sesekali tinggalkan zona nyaman untuk menjadi pelayan-pelayan kemanusiaan. Bagi pengusaha sisihkan kekayaannya untuk mendirikan “yayasan kemanusiaan” dengan menyiapkan beasiswa kepada anak-anak di kampungnya. Bagi yang memiliki jabatan dan pangkat tinggi, jadilah donatur rutin yayasan kemanusiaan dengan memperbaiki rumah-rumah ibadah di kampungnya. Pasilitasi pekerja kemanusiaan melaksanakan aktivitasnya membantu sesama. Bagi ilmuwan jangan hanya mengajar dikelas dibatasi dinding kampus, tapi mengajarlah di universitas kehidupan, agar semakin banyak anak-anak kampung tercerahkan.

Penulis : Akademisi, Inspirator dan Penggerak, Founder Sipil Institute Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here