BELAJAR DARI ANAK TK

0
957

Kolom Ruslan Ismail Mage

Seorang Profesor yang terkenal di kalangan mahasiswa sebagai orator diundang memberikan kuliah umum di hadapan ribuan mahasiswa baru pada salah satu universitas negeri ternama. Sang Profesor memulai ceramahnya : Wahai saudara-saudara yang berkumpul di auditorium megah ini, siapakah kalian semua ini? Mahasiswa baru semuanya diam membisu. Saudara-saudara untuk apa kalian datang semua ke kampus ini? Lanjut sang Profesor dengan nada lebih tinggi. Semua mahasiswa baru masih saja diam. Siapakah sebenarnya anda semua ini, apa yang anda inginkan, kenapa anda memilih jurasan, fakultas dan universitas ini? Tanya sang Profesor dengan nada menghardik memperlihatkan ekspresi wajah yang pesimis dan penuh  keraguan. Masih saja seluruh mahasiswa baru terdiam menundukkan kepala.

Apakah kalian semua ini adalah ciri-ciri generasi tanpa identitas, generasi tanpa tujuan, generasi yang miskin wawasan, generasi yang wajahnya tidak berwajah, atau apakah mungkin ini yang disebut generasi yang hanya mampu mengembek menuruti kehendak pengembalanya? Kalau memang demikian, negeri ini tidak membutuhkan saudara-saudara! Negeri ini sudah terlalu lama menderita sakit akibat dihuni generasi-generasi miskin wawasan yang terkontaminasi virus diam tidak berbuat apa-apa, ketika rakyat selalu disingkirkan oleh sistem yang hanya berpihak kepada pemilik modal dan politisi. Negeri ini tidak membutuhkan kalian yang hannya mampu menggerutu melihat kekayaan alam dirampok kapitalis. Negeri ini tidak membutuhkan kalian yang hanya membisu menonton pertunjukan ketidakadilan hukum dan ekonomi.

Kalau ingin menjadi generasi pemenang yang tangguh, pergi belajar dulu kepada anak TK! Jelas sang Profesor menutup ceramahnya lalu pergi meninggalkan ribuan mahasiswa baru yang semakin diam dan tambah bengong disuruh belajar ke anak TK. Apasih hebatnya anak TK sampai kami harus berguru kepadanya, demikian ribuan mahasiswa membatin memandangi punggung sang Profesor yang perlahan menjauh.

Disinilah pentingnya judul tulisan ini dimaknai lebih lanjut, walaupun terkesan kurang maknanya. Betapa tidak! Ketika mendengarkan kata anak TK, serta merta kontruksi pemikiran kita hanya akan terbayang anak-anak kecil yang lucu, polos dan menggemaskan. Sekumpulan anak-anak aktif yang bermain berlari-larian tanpa beban, ekspresi wajah ceria bernyanyi, berteriak mengikuti nuraninya. Pikirannya yang polos apa adanya tanpa harus berpikir malu bernyanyi karena giginya ompong dimakan ulat. Semunya berebut ingin berdiri paling di depan mengikuti upacara baris-berbaris, semuanya ingin tampil duduk paling di depan mendengarkan ibu guru bernyanyi.

Lalu dimana letak kelebihannya anak TK sehingga mahasiswa harus berguru kepedanya kalau ingin menjadi pemenang di atas panggung kehidupan? Kelebihannya karena anak TK belum memproduksi “Mental Blok” yang akan menekan seluruh potensi dirinya untuk muncul kepermukaan. Mental blok, adalah hambatan secara mental/psikologis yang menyelubungi pikiran seseorang, sehingga bisa menghambat dalam mencapai impian atau tujuan hidupnya. 

Coba perhatikan anak TK ketika disuruh bernyanyi ke depan kelas, pasti berebut ingin bernyanyi ke depan kelas. Perhatikan anak TK kalau disuruh angkat tangan yang bisa memimpin baris berbaris, pasti berebut angkat tangan. Lalu pertanyaan yang sama diajukan kepada anak SD, pasti sudah tidak berebut lagi angkat tamgan ingin bernyanyi ke depan kelas. Pertanyaan yang sama diajukan ke anak SMP, biasanya tidak ada lagi yang mau angkat tangan ingin beridiri di depan kelas bernyanyi. Pertanyaan yang sama ditujukan kepada anak SMA, jangankan angkat tangan, mau memperlihatkan mukannya saja sudah malu, hampir semuanya sudah menundukkan kepala ketika guru meminta salah seorang ke depan menyanyikan lagu Garuda Pancasila. Terakhir pertanyaan yang sama disampaikan di depan kelas mahasiswa, hampir dipastikan saling berpandangan memperlihatkan raut muka yang tegang.

Pertanyaan berikutnya, kenapa anak SD, SMP, SMA, dan mahasiswa tidak ada lagi berebut angkat tangan untuk tampil ke depan kelas bernyanyi, atau mengemukakan ide-ide kreatifnya yang berkaitan dengan materi pelajarannya? Jawabannya,  karena mereka sudah mulai memproduksi “mental blok”. semakin bertambah umur seseorang semakin memproduksi mental blok yang akan menenggelamkan seluruh potensi dalam dirinya. Dalam hal ini rasa malu, ragu, segang, tegang, pesimisme, tidak percaya diri, grogi, takut salah dan takut gagal adalah mental blok yang harus disingkirkan kalau ingin menjadi generasi sukaes masa depan. Orang yang terus memproduksi mental blok, laksana ia hidup dalam botol yang tertutup.

Kenapa mesti malu, segang, grogi, bahkan takut untuk tampil ke depan? Hanya pelanggaran norma yang bisa menghentikan langkah anda untuk muncul kepermukaan menjadi pemenang. Selama tidak melanggar norma agama, norma hukum, norma kesopanan, dan norma kesusilaan, tidak ada alasan untuk berhenti melangkah maju berdiri paling di depan. Jadi belajarlah kepada anak TK bagaimana muncul kepermukaan dengan segala kekurangannya, lalu bersiaplah menjadi pemenang. 

Penulis adalah Akademisi, Inspirator & Penggerak, Founder Sipil Institute Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here