Balada Buah Kemiri dan Nasi Jagung (Bagian Kedua)

0
379
- Advertisement -

PINISI.co.id- Anak lelaki itu terus berdamai dengan kanyataan. Tidak pernah mengeluh jalan di tanah liat tanpa alas kaki pulang dari sekolah. Siang itu dengan napas sedikit tersengal-sengal, ia mampir duduk dibatang pohon kelapa di pinggir jalan. Melihat masih cukup waktu, sebagaimana kebiasannya pulang dari sekolah ia tidak langsung istirahat, tetapi memanfaatkan waktu dengan mencari buah kemiri (Mallele Pelleng). Hal ini dilakukan sebagai usaha untuk mendapatkan uang tambahan. Biasanya 100 biji kalau dijual dinilai 25 sampai 50 perak, tergantung besar dan kecilnya. Kalau ada sisanya dijual, ia pakai main lomba mattaru dengan teman sebayanya. Salah satu permainan anak-anak kampung disamping main kelereng.

Cara permainan ini adalah mengumpulkan buah kemiri dalan satu garis lingkaran. Setelah itu dilempar dengan kemiri paling besar yang biasa disebut, “Pelleng pattaru atau pelleng pakkamba). Kemiri paling besar sebagai pakkamba yang dilemparkan ke dalam lingkarang yang berisi sekumpulan buah kemiri. Kalau berhasil membidik semua kemiri dan keluar dari lingkaran menyisahkan pakkambanya dalam lingkaran, itulah dinyatakan sebagai pemenang. Sebaliknya jika pakkambanya ikut keluar lingkaran yang boleh diambil hanya kemiri yang ikut keluar dan belum dinyatakan sebagai pemenang.

Disamping suka ikut bermain mattaru kemiri, anak lelaki tersebut juga punya kegemaran lain yaitu membuat mainan pesawat dari gulungan benang yang diberi baling-baling. Mainan pesawat itu didorong sehingga kelihatan seperti pesawat helikopter. Permainan lain yang menjadi kegemarannya adalah lomba balap kelereng dengan memakai batang pisang yang disambung. Melakukan putaran bagaikan balapan motor cross, siapa yang paling cepat sampai kelerengnya diujung tidak pernah jatuh maka itulah jadi pemenangnya.

Bermain kelereng, lomba mattaru buah kemiri, dan permainan kampung lainnya, itu hanya selingan memenuhi usia kanak-kanaknya. Rutinitas sesungguhnya kalau pagi hari pergi sekolah adalah sekalian memikul sekarung jagung mentah utuh dibawa ke pabrik penggilingan jagung dekat pasar yang cukup dikenal namanya kamo pasarai. Jagung itu dititip baru pergi ke sekolah. Nanti sepulang sekolah baru mampir mengambilnya memikul pulang ke rumah berjalan kaki.
 
Hal itu rutin dilakukan kalau persediaan nasi jagung di rumahnya sudah menipis. Kalau secara manual membuat nasi jagung dengan cara memutar di penggilingan tetangga untuk memecahkan jagung memakan waktu lama, karena menggunakan tenaga kekuatan tangan memuputar penggilingan sampai pecah jagungnya dan bisa layak untuk dimasak.

Hampir setiap hari makan nasi jagung dengan sayur kelor dan bayam, ternyata sangat lahap dan menyehatkan. Terlebih menahan lapar dari sekolah karena tidak punya uang jajan. Begitulah rutinitas anak leleki itu yang terus merawat cita-citanya. Pulang sekoah setelah mampir mengumpulkan buah kemiri yang terjatuh di kebun, menahan lapar, lalu disambut sang ibu dengan masakan nasi jangung, sayur kelor, ikan asin, adalah energi kehidupannya yang tidak pernah terputus sampai sekarang. (RIM : Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here