Andi We Tenrisau Sapada, Mengalir Darah Seni, Patriot dan Pejuang

0
474

Kolom Fiam Mustamin

IBUNDANYA, Andi Siti Nurhani Makkasau, seniwati pencipta seni tari. Ayahabdanya, Andi Sapada Mappangile, pejuang kemerdekaan. Kakeknya, Datu Toa Suppa Andi Makkasau Laparenrengi Lawawo, pejuang kemerdekaan yang berbasis di wilayah afdeling Parepare dan daerah Ajatappareng (Pinrang, Barru dan Sidenreng). Datu Toa ini menggemari  bermain biola dan sepakbola. Namanya diabadikan menjadi stadion sepakbola  Andi Makkasau Parepare. Andi Tenri adalah cucu turunan raja Gowa ke 32, I Kumala Karaeng Lembang Parang.

Saya mengenal Andi Tenri, sapaan singkat namanya, dari nama tokoh turunan dewa dalam epos La Galigo.

Kami berjumpa di kepengurusan KKSS di bawah kepemimpinan Petta Oddek priode 1985-1988 di Departemen Seni dan Budaya bersama Luther Barrung dan Abdul Muin Ahmad.

Di departemen seni dan budaya itu,  kami berempat bersepakat menempatkannya sebagai wadah pergerakan kreatif budaya dan seni yang merupakan ciri lahirnya KKSS sebagai paguyuban kekerabatan yang mengembangkan nilai nilai budaya Pangadereng/tata krama santun pergaulan.

Aktualisasinya dapat diwujudkan dalam bentuk karya seni pertunjukan dan temu temu budaya.

Sebelum itu, saya di Makassar hanya bisa melihat dari luar sebuah papan nama bertuliskan Institut Kesenian Sulawesi (IKS) di halaman depan rumah Petta Nani Sapada, ujung jalan Ratulangi berseberangan dengan Gubernuran Sulsel.

Rumah itu tak jauh dari tempat tinggal saya di Losmen Segara/pondokan petak tentara yang belum dapat perumahan permanen di jalan Sungai Saddang.

Dari IKS itulah kemudian melahirkan seniwati tari handal pelanjut generasi Petta Nani. Saya sebut nama yang saya kenal dekat antaranya;  Bunda Munasiah disapa Daeng Jinne dan Bu Ida Yusuf Madjid.

Andi Tenri menjadi anggota pengurus KKSS sejak tahun 1985 sampai saat ini di era kepemimpinan Muchlis Patahna. Namanya boleh dikata menjadi ikon budaya di KKSS.

Saya dapat menuturkan kesaksian itu bahwa Andi Tenri pernah menjadi Ketua Lembaga Kesenian Sulawesi Selatan/LKSS DKI Jakarta, kemudian menjadi Lembaga Seni Budaya Sulsel KKSS. Andi Tenri menjadi pemandu acara kesenian
dan pergelaran Pesona Budaya Sidrap dan Wajo di TMII di era kepengurusan Beddu Amang.

Keaktifannya di KKSS tidak menjadi penghalang  dengan posisi jabatannya sebagai pejabat penting di kantor pemerintahan DKI Jakarta.

Bersama grup Paduan Suara Unhas dipercayakan untuk membuat Mars KKSS dan Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) yang mulai diperdengarkan sejak  2005.
Mars ini liriknya diciptakan oleh Ansar Sanusi dan lagunya oleh Dionosio P.

Kedua mars terbut bisa disebut karya budaya monumental di era kepemimpinan Hasanuddin Massaile yang diperdengarkan pada setiap acara resmi KKSS.

Selama 10 tahun di era kepengurusan Ketua Umum A. Hasanuddin dan Jenderal A. Rivai, ia menjadi salah satu Ketua BPP KKSS yang membidangi seni budaya dan sosial.

Selain itu menjadi ketua panitia pengukuhan BPP KKSS dan PP IWSS pada 2004, ketua panitia sunatan masal KKSS, ketua panitia Upacara Tabur Bunga 11 Desember di Kalibata, ketua panitia Pemilihan Anak Dara Bajubodo.

Selama 10 tahun 2005-2014 menangani bidang acara dalam PSBM dan Mubes 2009 dan 2014.

Addatuang Sidenreng

MASA remajanya tamat Sekolah Rakyat 1968, Andi Tenri mengikuti ayahandanya yang menjadi bupati pertama di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Selama di Sidrap, bersama bundanya mengembangkan beberapa ciptaan karya tarian yang bernuansa budaya daerah antara lain  Bosara, Pa tennung, Anging Mamiri dan Padendang. Sebelum tarian itu dipergelarkan di panggung, Andi Tenri menjadi model koreografinya dan bisa disebut bahwa karya itu karya cipta bersama bundanya.

Selain itu, dua karya ciptanya sendiri yaitu Malatu Kopi dan Pasaug. Selama di Sidrap Andi Tenri juga belajar memetik kecapi dan dikenal sebagai pemain kecapi wanita pertama di Sulsel.

Di masa itu saya masih bocah berumah di kawasan Saoraja Watanlippu Tajuncu Soppeng. Kala itu para datu dan kerabatnya saling mengunjungi, karena mereka-mereka masih seketurunan dari Sidenreng, Massepe, Watanlipu dan Salassae Watansoppeng.

Di usia remaja 13 tahun (1965) Andi Tenri terpilih menjadi anggota delegasi misi kesenian Indonesia ke New York Fair yang dibatalkan karena Indonesia keluar dari keanggotaan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Tahun 1970, Andi Tenri menjadi delegasi kesenian ke Expo 70 di Osaka Jepang selama 6 bulan. Bersama Andi Mingke tampil menarikan Pa’tennung di hadapan Kaisar Hirahito dan permausuri di paviliun Indonesia. Dalam tahun itu juga bersama tim kesenian Indonesia ia melawat ke Philipina.

Andi Tenri lahir 1 Juni 1951 di Makassar. Di usia 6 tahun iya belajar menari dari bundanya dan mulai pentas perdana dengan tari Pakkarena di gedung Panti Penghibur tahun 1960. Ia meraih insinyur di ITB dan satu-satunya perempuan yang pernah menjadi pejabat di dinas yang membidangi infrastruktur di Provinsi DKI Jakarta.

Referensi:  Seni Tradisi Sulsel, Upacara Ritual Menuju Panggung Pertunjukan,  Ir. Andi We Tenrisau Sapada, MT, 201I. Andi Makkasau, Menakar Harga 40.000 Jiwa, Sabriah Hasan, 2008.

Beranda Inspirasi Ciluwung 22 Maret 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here